Jumat, 06 Juni 2008

St. Augustine - In a Field of Question Marks EP (2008)


Genre : Indie,Pop,Folk,Singer-Songwriter
Myspace
Download

Tracklist

01. Icelandic
02. To the floor
03. 14th of July
04. Kidney
05. Polar Bears
06. Rainy country


Raised in a ranch norvégo-Syrian by Dutch cowboys, St Augustine sings the polar bears and the days of rains, the small shelters and big spaces, the houses to be built and all that remains to be come…

Minggu, 01 Juni 2008

Iglomat - Iglomat (2008) (AWESOME !!!)




















Genre :
Post-rock, Ambient
Myspace
Download

Tracklist
:

1. Dial Wookie
2. Tornadic Activity
3. Augustus Loop
4. Apollo 18
5. Actung Kitler
6. Federal
7. Stormtroopers Of Gentrification
8. Dolphins From Wales
9. Two By Two
10. Neo War

‘Iglomat’s self titled album is a Ginger minimalist threesome collaboration, via the inner space of satellite communications. i.e, from opposite sides of the globe. What does the name mean? The band don’t even know, but it’s not important in your mid 30’s as much as having a broadband connection and pro tools. This 3 year, almost all instrumental project could easily play in any top 10 post-rock radio retirement home. ‘Cmon the ‘Mat! -Rolling Stone






[me]It's a nice debut album. Thx to sir Mayo @ IP ;)

Minggu, 18 Mei 2008

Daging Makanan Bergizi Kelas Satu, Benarkah?


By: Chindy Tan


”Bukankah daging tetap dibutuhkan tubuh untuk kesehatan?” Demikianlah kepercayaan yang sangat mengakar hingga detik ini, yakni daging sebagai sumber protein kelas satu, sumber kalsium, sumber lemak, sumber vitamin B12 dan sumber zat besi.

Salah satu akar kepercayaan ini bersumber dari sebuah studi antara tahun 1929-1950 dengan menggunakan asam amino yang dimurnikan (padahal makanan yang kita makan bukanlah asam amino yang dimurnikan). Kemudian, penelitian lanjutnya dilakukan pada tikus, yang ternyata tingkat kebutuhan proteinnya paling tinggi dari semua mamalia. Sebagai patokan, jumlah kalori protein yang terkandung dalam air susu tikus adalah 49%, sedangkan pada manusia jumlah kalori protein yang terdapat pada ASI hanyalah 5%.

Mengapa Jadi Berlebih?

Patut dicermati bahwa kebutuhan tertinggi tubuh manusia akan protein seumur hidupnya adalah masa usia 0-5 tahun. Pada masa paling krusial 0-6 bln di mana ASI secara eksklusif diberikan, ASI sendiri ‘hanya’ mengandung 5% kalori protein, Terkecuali masa menyusui, American Journal of Clinical Nutrition mematok rata-rata asupan 2,5% kalori protein per hari, dan banyak populasi yang hidup dengan baik-baik saja pada angka ini. Logis saja, karena pada masa kebutuhan tertingginya pun tubuh kita hanya dipasok 5% kalori protein dari ASI. Tentunya setelah lewat masa pertumbuhan, tubuh kita tidak membutuhkan sebanyak itu lagi, atau cukup di bawah 5% kalori protein.

Bukankah hal yang janggal bila National Egg Board, National Dairy Council, National Livestock, dan Meat Board Amerika menambah 30% dari angka yang harusnya kurang dari 6% (“Diet For A New America”)? Batas aman atau RDA 30% inilah yang disoroti sebagai dasar propaganda industri ternak. Kebijakan tersebut lantas dituangkan ke dalam kurikulum pendidikan. Bermula di Amerika, propaganda daging, telur, susu sebagai sumber protein utama ini pun mendunia, termasuk di Indonesia. Bangku sekolah kita tak luput dari jangkauan propaganda ini. Konsep yang sudah sangat akrab sampai ke sumsum kita, bahwa daging adalah sumber terbaik untuk protein.

Kejanggalan ini terjawab pada uraian Dr. David Reuben yang mempertanyakan: siapakah yang sesungguhnya memperoleh manfaat ekstra 30% batas aman tersebut? Beliau menjawab, “Mereka yang menjual daging, ikan, keju, telur, ayam dan semua sumber-sumber protein yang bergengsi dan mahal lainnya. Jika Anda adalah keluarga Amerika umumnya, Anda harus mengeluarkan uang 40 USD per bulan untuk memompa asupan protein yang sebenarnya tidak Anda perlukan. Pengeluaran ini, memberikan 36 miliar USD per tahun ke kantong penjual.” (Diet For A New America – John Robbins)

Business As Usual

Era globalisasi memberi jalan lapang bagi negara-negara industri yang kuat modal dan kuat teknologi untuk menguasai harkat hidup di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Mari lebih jeli menganalisa benang merah tiap fakta berikut: Makanan merupakan 11% dari keseluruhan komoditi perdagangan global, proporsi yang berada di atas perdagangan minyak bumi (Globalization and Human Nutrition, 2001). Produk makanan yang dihasilkan dari produksi pangan yang berlebihan di negara-negara industri mau tak mau harus dipasarkan. Namun karena ‘demand’-nya yang sudah statis (baca: jenuh) atau inelastik di negara industri, maka pilihan pasarnya adalah negara-negara berkembang yang produk pangannya masih ‘tradisional’ dan ‘terbatas’. Untuk ini industri makanan di Amerika Serikat mengeluarkan dana 30 miliar dolar setiap tahunnya untuk promosi (Bulletin of the World Health Organization, 2002). Strategi promosi yang digunakan memberi citra daging sebagai makanan bergengsi, modern dan gaul. Rumus ”Tiga P” digunakan: placing, pricing dan promotion. Hasilnya, menjamur dan mengguritanya bisnis makanan cepat saji hampir di seluruh dunia.

Dampak Terhadap Kesehatan


Prof.dr.Siti Fatimah Muis, M.Sc, SpGK dalam kajiannya,”Globalisasi Pangan: Dampaknya Terhadap Gizi dan Kesehatan” menuliskan bahwa setelah Perang Dunia II, negara berkembang mengalami transisi epidemiologi yakni, menurunnya penyakit infeksi seperti TBC, tifus, diare, lepra dan mulai munculnya penyakit degeneratif seperti penyempitan pembuluh darah jantung atau otak, penyakit gangguan metabolisme dan keganasan. Dan sekarang telah memasuki masa transisi berikutnya adalah transisi gizi atau munculnya masalah gizi ganda. Artinya, masalah gizi berlebih pada saat yang bersamaan muncul dengan masalah gizi kurang. Kelebihan asupan energi pada anak-anak dan remaja, utamanya dari makanan berlemak jenuh tinggi (daging, telur, dan susu) di atas 30% dari keseluruhan asupan energi sehari-hari ternyata juga dapat mengakibatkan kenaikan kolesterol, penebalan/pengerasan dinding pembuluh darah (atherosklerosis) dan diabetes tipe-2 seperti yang dialami usia paruh baya (Rapid Westernization of children’s blood cholesterol in 3 countries, 2000). Pada abad ke-20 diabetes tipe 2 (non-insuline dependent) hanya terjadi pada usia paruh baya dan tua. Namun, tren sekarang menunjukkan penyakit tersebut mulai banyak diderita oleh anak maupun remaja. Terjadi peningkatan empat kali lipat kejadian diabetes tipe 2 pada anak usia anak 6-15 tahun yang terbukti berkorelasi dengan kelebihan berat badan (Type 2 diabetes in young, 2004)

Sesekali saat membesuk rekan yang sakit di RS, cobalah adakan survei kecil. Berapa banyak pasien penderita stroke, serangan jantung, hipertensi, diabetes dan kanker dan yakinlah, sepuluh dari sepuluh penderita tersebut dianjurkan oleh dokter untuk mengurangi atau berpantang daging. Begitu sederhana pesan yang bisa diamati dari sekeliling kita tanpa perlu studi atau riset untuk sampai pada pemahaman bahwa: sederet penyakit inilah yang sebenar-benarnya ’diberikan’ oleh daging kepada tubuh manusia.

Ps. artikel ini hasil repost dari www.dee-idea.blogspot.com, ini dikarenakan saya tidak memiliki kapasitas dalam bidang tersebut.

Rabu, 14 Mei 2008

Global Warming & vegetarian

Bumi Kita Butuh Langkah Cepat, Please Go Veggie!
by: Chindy Tan

pemanasan-global-low-res1.pdf
Alarm tanda bahaya dampak pemanasan global berbunyi semakin nyaring. Pola pencairan es di Arktika merupakan salah satu indikatornya. Perubahan demi perubahan melaju dalam hitungan bulan. Tanggal 18 Maret 2008, Jay Zwally, ahli iklim NASA, memprediksi es di Arktika hampir semua akan mencair pada akhir musim panas 2012. Hanya dalam waktu dua bulan prediksi itu bergeser. Tanggal 1 Mei 2008 lalu, prediksi terbaru dilansir NASA: mencairnya semua es di Arktika bisa terjadi di akhir tahun 2008 ini. Sederet tanda-tanda bahaya yang telah terjadi sebelumnya adalah volume es di Arktika pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari empat tahun sebelumnya. Es di Greenland yang telah mencair mencapai 19 juta ton. Fenomena terbaru lainnya, pada tanggal 8 Maret 2008 beting es Wilkins di Antartika yang berusia 1500 tahun pecah dan runtuh seluas 414 kilometer persegi (hampir 1,5 kali luas kota Surabaya atau sepertiga luas Jakarta).

Efek domino apa yang membayang bila es di Arktika mencair semua? Mencairnya es di Arktika tidak akan menaikkan level permukaan air laut, melainkan akan mempercepat siklus pemanasan global itu sendiri. Bila es di Arktika mencair semua, 80% sinar matahari yang sebelumnya dipantulkan akan diserap 95% oleh air laut. Konsekuensi lanjut adalah potensi terlepasnya 400 miliar ton gas metana atau 3000 kali dari jumlah gas metana di atmosfer. Gas metana dapat terlepas akibat mencairnya bekuan gas metana yang stabil pada suhu di bawah dua derajat celcius. Seperti diketahui, gas metana memiliki efek rumah kaca 25 kali lebih besar dari gas CO2. Salah satu skenario yang mungkin terjadi adalah terulangnya bencana kepunahan massal yang pernah terjadi pada 55 juta tahun yang lalu dikenal dengan masa PETM (Paleocene-Eocene Thermal Maximum). Saat itu, gas metana yang terlepas ke atmosfer mengakibatkan percepatan pemanasan global hingga mengakibatkan kepunahan massal. Bukti geologi lain menunjukkan kepunahan massal juga pernah terjadi 251 juta tahun lalu, pada akhir periode Permian. Akibat terlepasnya gas metana, lebih dari 94% spesies mengalami kepunahan massal. Kematian massal terjadi mendadak karena turunnya level oksigen secara ekstrem.

Membaca fakta-fakta di atas, satu hal yang patut digarisbawahi adalah tenggat waktu yang semakin sempit. Dr. Rajendra K. Pachauri, Ketua IPCC, menekankan bahwa dua tahun ke depan merupakan masa tenggat penting untuk menghambat laju pemanasan global yang bergerak dengan sangat cepat. James Hansen, ahli iklim NASA, mengatakan bahwa kita telah berada di titik sepuluh persen di atas batas ambang kemampuan Bumi mencerna CO2. Artinya, kita telah melampaui titik balik. Pada level saat ini, tindakan yang harus diambil bukan lagi mengurangi, melainkan menghentikan.

Kita butuh kecepatan dan ketepatan membaca masalah hingga dapat memilih solusi yang efektif. Solusi yang mampu berpacu dengan waktu untuk memperlambat laju pemanasan global. Berkaitan dengan ini, dalam konferensi persnya di Paris, 15 Januari 2008, Pachauri mengimbau masyarakat dunia dalam tingkat individu untuk: pertama, jangan makan daging. Kedua, kendarai sepeda. Ketiga, jadilah konsumen yang hemat.

Mengapa ”jangan makan daging” berada pada urutan pertama? Fakta berbicara, seperti laporan yang dirilis Badan Pangan Dunia – FAO (2006) dalam Livestock’s Long Shadow – Environmental Issues and Options, daging merupakan komoditas penghasil emisi karbon paling intensif (18%), bahkan melebihi kontribusi emisi karbon gabungan seluruh kendaraan bermotor (motor, mobil, truk, pesawat, kapal, kereta api, helikopter) di dunia (13,5%). Peternakan juga adalah penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan 70% persen bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Setiap tahunnya, penebangan hutan untuk pembukaan lahan peternakan berkontribusi emisi 2,4 miliar ton CO2.

Memelihara ternak membutuhkan energi listrik untuk lampu-lampu dan peralatan pendukung peternakan, mulai dari penghangat ruangan, mesin pemotong, mesin pendingin untuk penyimpanan daging. Mesin pendingin merupakan mata rantai paling tidak efisien energi listrik. Hitung saja mesin pendingin mulai dari rumah jagal, distributor, pengecer, rumah makan, pasar hingga sampai pada konsumen. Mata rantai inefisiensi berikutnya adalah alat transportasi untuk mengangkut ternak, makanan ternak, sampai dengan elemen pendukung lain dalam peternakan intensif seperti obat-obatan, hormon dan vitamin.

Mata rantai lain yang sangat tidak efisien tapi telah berlaku demikian kronis adalah pemanfaatan hasil pertanian untuk peternakan. Dua pertiga lahan pertanian di muka Bumi ini digunakan untuk peternakan. Sebagai contoh, Eropa mengimpor 70% protein (kedelai, jagung dan gandum) dari pertanian untuk peternakan. Indonesia sendiri pada tahun 2006 mengimpor jagung untuk pakan ternak 1,77 juta ton. Prediksi produksi pakan ternak naik dari 7,2 juta ton menjadi 7,7 juta ton, kata Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas-Paulus Setiabudi (Kompas, 8 November 2007). Sementara itu, menurut data Indonesian Nutrition Network (INN), setengah dari penduduk Indonesia mengalami kelaparan tersembunyi (16 Sept 2005), sebagaimana yang dikemukakan oleh Menteri Kesehatan DR. dr. Fadillah Supari, SPJP(K).

Tanggal 30 April 2008 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak segenap bangsa ini untuk bersama saling membahu menghadapi krisis pangan dunia. Akar masalah kelangkaan pangan jika dicermati salah satunya adalah krisis manajemen lahan itu sendiri. Secara matematis, inefisiensi pemakaian lahan pertanian untuk pakan ternak tercermin dari perhitungan kalori yang “terbuang” untuk membesarkan ternak cukup. Pakan yang selama ini diberikan kepada ternak dapat memenuhi kebutuhan kalori 8,7 miliar orang! Berarti masih ada kelebihan kalori untuk 2,1 miliar orang. Sebenarnya tidaklah sulit untuk memahami mendesaknya perubahan pola makan ini, yakni perubahan ke pola makan yang mata rantainya pendek. Perut manusia bisa langsung mencerna kedelai, jagung dan gandum tanpa harus melalui perut ternak terlebih dahulu. Tidakkah beralih ke pola makan bebas daging justru dapat menjadi solusi ketimpangan akses pangan seluruh dunia?

Pertanian untuk pakan ternak itu sendiri merupakan penyumbang 9% CO2 (karbondioksida), 65% N2O (dinitrooksida) dan 37% CH4 (metana). Perlu diketahui efek rumah kaca N2O adalah 296 kali CO2, sedangkan CH4 adalah 25 kali CO2. Satu lagi masalah industri peternakan yang sangat krusial yakni, inefisiensi air. Sekian triliun galon air diperuntukkan untuk irigasinya saja. Sebagai gambaran sederhana, untuk mendapatkan satu kilogram daging sapi mulai dari pemeliharaan, pemberian pakan ternak, hingga penyembelihan seekor sapi membutuhkan satu juta liter air! Data yang dihimpun Lester R. Brown, Presiden Earth Policy Institute dan Worldwatch Institute, memaparkan dalam bukunya ”Plan B 3.0 Mobilizing to Save Civilization” (2008) bahwa karena untuk memproduksi satu ton biji-bijian membutuhkan seribu ton air, tidak heran bila 70% persediaan air di dunia digunakan untuk irigasi.

Jejak emisi gas rumah kaca daging terukur jelas. Dr Rajendra memberi ilustrasi konversi energi untuk memelihara sampai menghasilkan sepotong daging sapi, domba atau babi sama besar dengan energi yang dibutuhkan untuk menyalakan lampu 100 watt selama 3 minggu. Satu kilogram daging menyumbang 36,4 kg CO2, tidak heran bila data dari film dokumenter ”Meat The Truth” menyebutkan emisi CO2 seekor sapi selama setahun sama dengan mengendarai kendaraan sejauh 70.000 km. Penelitian di Belanda (www.partijvourdedie.en.el) mengungkapkan, seminggu sekali saja membebaskan piring makan dari daging masih 7,6 kali lebih cepat dibandingkan gerakan hemat energi skala rumah tangga dalam setahun.

Penelitian paling gres yang dilakukan Prof. Gidon Eshel dan Pamela A. Martin (”Diet, Energy and Global Warming”) merunut kontribusi setiap potongan daging terhadap emisi karbon. Penelitian ini diakui secara ilmiah dan dipublikasikan dalam jurnal bergengsi para ilmuwan Earth Interaction Vol. 10 (Maret 2006). Jumlah gas rumah kaca yang diemisikan oleh daging merah, ikan, unggas, susu dan telur jika dibandingkan dengan diet murni nabati/vegan, ternyata jika satu orang dalam setahun mau mengganti diet hewani mereka ke diet nabati murni/vegan akan mencegah emisi CO2 sebesar 1,5 ton. Lima puluh persen lebih efektif daripada upaya mengganti mobil Toyota Camry ke mobil Toyota Prius hybrid sekalipun yang ternyata hanya mampu mencegah 1 ton emisi CO2.

Objektivitas akan menuntun kita untuk mengakui pola konsumsi daging sebagai kontributor terbesar emisi gas rumah kaca. Pilihan kita tidak banyak, mengingat tenggat waktu yang demikian sempit. Mengutip tulisan Senator Queensland, Andrew Bartlett, bahwa seluruh dunia tidak mesti menjadi vegetarian atau vegan untuk menyelamatkan planet kita, tapi kita harus mengakui fakta-fakta ilmiah ini, bahwa jika kita tidak mengurangi konsumsi produk hewani, kesempatan kita untuk menghentikan perubahan iklim adalah nihil. Menurut Bartlett, tidak ada langkah yang lebih murah, lebih mudah dan lebih cepat untuk dilakukan yang dapat mengurangi kontribusi tiap individu terhadap emisi gas rumah kaca selain memangkas jumlah konsumsi daging dan produk susu dan olahannya.

Aksi untuk hemat bahan bakar kita masih banyak bergantung pada fasilitas umum. Upaya yang paling bisa kita lakukan adalah menggunakan kendaraan umum. Namun, sudah menjadi rahasia umum, tidak mudah untuk menggunakan kendaraan umum jika berhadapan dengan kepentingan keamanan, dan untuk ini kita masih bergantung pada kebijakan pemerintah. Aksi hemat energi dalam konteks yang paling ideal bergantung pada teknologi. Sumber energi paling ramah lingkungan yakni tenaga angin, air, dan matahari, masih jauh membutuhkan teknologi dan biaya yang tidak kecil. Butuh waktu yang panjang dan upaya ekstra untuk menggerakkan kesadaran massal untuk hemat energi, hemat listrik, hemat bahan bakar karena harus berhadapan dengan kebiasaan dan perilaku yang telah mengakar.

Mengubah pola makan juga berhadapan dengan kebiasaan yang telah mengakar. Namun, memegang sendok dan akhirnya menjatuhkan pilihan apa yang akan dimasukkan ke mulut kita, sepenuhnya berada di kendali kita. Langsung bisa dilakukan! Jarak antara piring dan mulut kita mungkin hanya sejarak panjang sendok, membalikkan isi sendoknya hanya butuh waktu sekedipan mata, tapi kendalinya ada pada mindset tiap kita. Sejenak, biarkan kepala dingin hadir. Mari dengan mata jernih melihat realitas, mengakui fakta betapa tekanan pola konsumsi daging sedemikian hebatnya pada daya dukung Bumi. Sejenak merasakan beban berat Bumi ini mungkin akan menggeser pilihan kita ke pola konsumsi tanpa daging, pola yang jauh lebih ramah Bumi.

PS 1.Penulis adalah Koordinator Indonesia Vegetarian Society Regional Yogyakarta - Jateng.
PS2. artikel ini repost dari www.dee-idea.blogspot.com

Kamis, 01 Mei 2008

Javelins - Heavy Meadows (2008)

Genre : Indie,Rock,Experimental GREAATT!!
Myspace
download


Tracklist


01. Flowers
02. Heavy Meadows
03. The Pounding
04. El Dorado
05. Roman Saints
06. Out On The Sand
07. Pickup Lines
08. Entropy
09. JConnected
10. Red Handed

"Javelins have created the perfect summer record for 2008. From the very first shimmery wall of guitar, every note of Heavy Meadows is capable of sticking to a listener's heart and brain." - Metro Times

"Javelins have gone the extra mile on all fronts.... literate, orchestral pop, heightened by their ear for whirling futuristic breakneck rock." - Real Detroit Weekly

"Javelins didn’t just write a collection of random songs. They aimed to achieve a cohesive work of art, capturing in music the contradictory nature of the wounded lover.... this is the sound of zero gravity." - Detour Magazine

"Whether it’s the small thread of psychedelia running throughout the album, the lush instrumentation, driving guitars, danciness, expansiveness, smoky-yet-sharp feel — I’ve found myself enjoying each one." - Buzzgrinder.com

"Jangly and dreamy, but also poppy. and Awesome." - Relevant Magazine



Senin, 07 April 2008

kaum yang picik

dalam gelap lah kini kutahu apa itu cahaya...
dalam kesendirian lah kini kutahu apa inginku...

orang2 tertindas dan perang yg tanpa akhir telah mengotori dunia dalam imajinasiku,
menghapus dunia indah dengan suara anak kecil yg berlarian...
senyum mereka adalah sebagian dari senyum dunia yang diinginkan tuhan...
kasih mereka bagian dari ketulusaan cinta yg diciptakan tuhan untuk kita...

tapi,...
semua yg tak ternilai harganya kini tlah dikotori oleh mereka yg ingin kuasa atas dunia...
mereka yg berpikir bahwa mereka satu2nya keturunan adam!!!
lalu manusia lain dianggap keturunan setan???
kalian menklaim bahwa kalian berada diatas semua golongan..dan selain kaummu hanyalah binatang

dimanakah tuhan ????
disaat hamba yg tak henti2 nya menyembahmu tlah diperlakukan lebih rendah dari seekor binatang oleh kaum yg bodoh dengan semua kejeniusaanya!!!
darah satu juta manusia lain hanya berharga satu manusia dari kaum mereka...
hanya karena di sebut kaum orang2 tepilih oleh beberapa keyakinaan tlah membuat kalian berpikiran picik layaknya binatang,,

kuasa yg besar dengan sedikit manusia membuatmu lebih mudah bergerak..
einstein dan banyak lagi ilmuwanmu memang membuktikan bahwa kau adalah kaum yg pantang menyerah,,,
ribuan kali diusir dari tanah yg menghidupimu bukanlah hak untuk mendapatkan tanah dan bangsa baru bagi kalian,...

karena yang kutahu, tidak ada bangsa baru dengan penduduk baru....

Sabtu, 05 April 2008

Windy And Carl - Antarctica























Genre :
Ambient, Post-rock, Experimental

Download
Tracklist :

01. Antarctica
02. Traveling
03. Sunrise

Released as the second instalment of Darla's Bliss Out series back in 1997, this album has aged unbelievably well. Antarctica could be a how-to guide for fashioning timeless, organic drone music, and the first lesson here is that you really don't need much in the way of electronics or fancy equipment to make a statement. The opening piece sprawls across 22-minutes of shimmering, horizontal guitar, while crunching loops - sounding like trodden-on snow - carve out a rhythmic element, ultimately resembling the kind of approach Biosphere has been known to adopt for his own frozen ambiences. The two shorter ensuing tracks are more focussed on guitar sounds, finding themselves filtered and treated with delays to create a chilly, windswept aesthetic on 'Travelling', before 'Sunrise' opens up a little more, revealing more pronouncedly melodic chord sequences. Amazing stuff.

"Antarctica is three long, cold drones that you could wrap yourself up in but still find room to breathe. Like the great howl of bastard cold over an icy plain, Windy and Carl don't cozy up to you as much as they pour liquid nitrogen down your pants and smash your ass with a hammer. Fans of Flying Saucer Attack, Brian Eno's ambient works, and Slowdive would be best advised to yank this like it were a pud. (Be sure to pick up Drawing of Sound while you're at it.)" (pitchforkmedia)

Senin, 24 Maret 2008

different war

peperangan ini tak kan berakhir
world peace hanyalah pernyataan bodoh yg tak dapat dipertanggung jawabkan
generasi muda di doktrin dengan game perang dan kekerasaan
dan diajarkan untuk membunuh semua lawan


kekuasaan milik mereka yg kuat
tapi kebenaran tetaplah milik mereka yg benar
tidak ada yg absurd dalam pernyataan benar
mereka yg tidak mau dipersalahkan lah yg mengabsurdkan pernyataan benar


ini adalah budaya baru
ini adalah perang baru
sesuatu yg bahkan tuhan pun tak pantas melihatnya
peperangan yg tak sepadan lah yg berlaku sekarang
karena kemenangan ditentukan oleh teknologi , bukan hasrat untuk menang.....

Rabu, 19 Maret 2008

Hei, sang manusia!!!

kalian pernah g disebut bodoh, begok atau sejenisnya oleh seseorang, yang mungkin dia merasa dirinya lebih pintar atau merasa sedikit cerdas dari sisi akademisnya. terkadang orang seperti ini banyak kita temui di sekitar kita, sangat dekat, bahkan terkadang saudara atau teman kita sendiri. apabia kalian mau disebut bodoh dan merasa bodoh, maka saya sarankan untuk berhenti membaca artikel ini, buang selebaran ini dan pergi jadi sampah masayarakat.

orang yang menyebut kalian bodoh adalah orang yang lebih bodoh dari kalian, karena dia mampu menyebut kata “bodoh” dan bersikap sedikit pintar. mereka merasa sedikit pintar dengan sedikit kebodohannya dan merasa cerdas dengan sedikit kedunguannya. apakah kalian mau dikatakan bodoh oleh orang yang lebih bodoh dari kalian. Mungkin dia merasa sedikit pintar dari kita dari sisi akademis, tapi itu bukanlah segala-galanya!!. keangkuhan mereka yang terkadang suka menyepelekan orang, membuat mereka bersikap mereka adalah yang terbaik. tidak jujur apabila saya merasa saya tidak pernah menyepelekan orang lain, manusia memang dilahirkan untuk menilai apa yang dilihat kemudian dirasa. tapi apakah benar yang dilihat dan dirasa oleh kita telah kita nilai secara overall dan objektif. disinilah sifat subjektifitas manusia terlihat, seorang filsuf bernama rene descartes berkata bahwa seorang manusia takkan pernah bisa menilai sesuatu secara objektif, karena manusia hanya menilai sesuatu yang dirasa, dilihat dan diraba melalui indranya yang terbatas.

kita takkan tahu bahwa benar gelas yang kita pegang berbentuk lingkaran atau trapesium. mungkin secara realita benda itu berbentuk lingkaran, tapi siapa yang tahu kalau benda itu sebenarnya berbentuk petak atau ketupat, keterbatasaan indra kita dalam menilai suatu objeklah yang membuat kita merasa benar.

itu sebuah contoh untuk objek benda mati, bagaimana kalau objek itu manusia?
manusia adalah objek hidup yang menyimpan banyak misteri. sedekat apapun kita dengan seseorang, apakah itu sahabat, keluarga atau istri sekalipun yang telah mengarungi hidup bersama, takkan bisa menguak misteri hidup seseorang. walaupun orang tersebut bersifat ekstrovert yang terbuka atas semua masalah dan hidupnya, pasti ada sebuah rahasia dalam dirinya yang disimpan dalam-dalam dan tak diceritakannya kepada orang lain.

dan bagaimana kalau orang tersebut baru kita kenal beberapa tahun atau bulan?
orang-orang seperti inilah yang akan mati karena keangkuhannya, kebodohannya dan rasa terbaik atas dirinya. Menurut saya tidak ada yang terbaik dan tidak ada yang terburuk. apabila ada manusia yang terlihat dan terasa sempurna maka pasti ada sesuatu yang salah dengannya. tidak selamanya penjahat, pembunuh atau apalah namanya, bersikap jahat pada semua orang, terkadang mungkin dia sangat sayang pada anak dan istrinya.dan belum tentu orang yang terlihat baik adalah baik juga baik pada semua orang.

itulah sifat dasar manusia, kita mepunyai banyak kepribadiaan dan sifat yang saling bertolak belakang. kita baik kepada orang tertentu dan juga sebaliknya. penilaian kita terhadap seseorang hendaklah lahir dari penilaian hati kita sebagai manusia bukan berdasarkan rasa yang dirasakan oleh indra kita yang terbatas. sebaiknya berhati-hatilah terhadap ucapan kita, karena belum tentu orang yang kita sebut bodoh adalah bodoh, karena manusia dilahirkan berbeda satu sama lain. dan saya rasa tuhan cukup adil dalam menciptakan hamba-hambanya. Saya rasa mengetahui kekurangan kita sendiri sebagai manusialah yang akan membuat kita merasa lebih sempurna. Oleh karena itu, hendaklah kita sedikit objektif dari kesubjektifan kita sebagai manusia, karena masih banyak yang ternyata lebih baik dari kita. masih banyak yang harus dikejar dan dicapai. biarkanlah egioisme mereka yang akan meruntuhkan diri mereka sendiri.

Senin, 17 September 2007

Soup Janin dari Cina

Cerita ini ditulis oleh seorang wartawan di Taiwan sehubungan dengan adanya gosip mengenai makanan penambah kekuatan dan stamina yang dibuat dari sari/kaldu janin manusia.

'Healthy Soup' yang dipercaya dapat mendapat stamina dan keperkasaan pria terbuat dari janin bayi manusia berumur 6 - 8

Salah seorang pengusaha pemilik pabrik di daerah Tong Wan, Taiwan mengaku sebagai pengkonsumsi tetap 'Healthy Soup'. Sebagai hasilnya, pria berusia 62 tahun menjelaskan khasiat 'Healthy Soup' ini mempertahankan kemampuannya untuk dapat berhubungan seks beberapa kali dalam semalam.

Penulis diajak oleh pengusaha tersebut di atas ke salah satu restoran yang menyediakan 'Healthy Soup' di kota Fu San - Canton dan diperkenalkan kepada juru masak restoran tersebut. Kata sandi untuk 'Healthy Soup' adalah BAIKUT.

Juru masak restoran menyatakan jenis makanan tersebut tidak mudah didapat karena mereka tidak tersedia 'ready stock'. Ditambahkan pula bahwa makanan tersebut harus disajikan secara fresh, bukan frozen. Tetapi kalau berminat, mereka menyediakan ari-ari bayi (plasenta) yang dipercaya dapat meningkatkan gairah seksual dan juga obat awet muda.

Juru masak restoran tersebut mengatakan jika memang menginginkan Healthy Soup', dia menganjurkan untuk datang ke sebuah desa di luar kota dimana ada sepasang suami istri yang istrinya sedang mengandung 8 bulan. Diceritakan pula bahwa si istri sebelumnya sudah pernah mengandung 2 kali, tetapi kedua anaknya lahir dengan jenis
kelamin perempuan. Jika kali ini lahir perempuan lagi, maka 'Healthy Soup' dapat didapat dengan waktu dekat.

Cara pembuatan 'Healthy Soup', seperti yang diceritakan oleh jurnalis yang meliput kisah ini adalah sebagai berikut:
Janin yang berumur beberapa bulan, ditambah Pachan, Tongseng, Tongkui, Keichi, Jahe, daging ayam dan Baikut, di tim selama 8 jam, setelah itu dimasak selayaknya memasak sup.

Beberapa hari kemudian seorang sumber menghubungi penulis untuk memberitahukan bahwa di Thaisan ada restoran yang sudah mempunyai stok untuk 'Healthy Soup'. Bersama sang pengusaha, penulis dan fotografer pergi ke restoran di Thaisan untuk bertemu dengan juru masak restoran tersebut yang tanpa membuang waktu langsung mengajak rombongan untuk tour ke dapur.

Di atas papan potong tampak janin tak bernyawa itu tidak lebih besar dari seekor kucing.
Sang juru masak menjelaskan bahwa janin tersebut baru berusia 5 bulan, tidak dijelaskan berapa harga belinya, yang pasti itu tergantung besar-kecil, hidup-mati janin tersebut dan sebagainya (Masya Allah!!!).

Kali ini, harga per porsi 'Healthy Soup' 3,500 RMB karena stok sedang sulit untuk didapat. Sambil mempersiapkan pesanan kami, dengan terbuka juru masak tersebut menerangkan bahwa janin yang keguguran atau digugurkan, biasanya mati, dapat dibeli hanya dengan beberapa ratus RMB saja, sedang kalau dekat tanggal kelahiran dan masih hidup, bisa semahal 2.000 RMB.

Urusan bayi itu diserahkan ke restoran dalam keadaan hidup atau mati, tidak ada yg mengetahui. Setelah selesai, 'Healthy Soup' disajikan panas di atas meja, penulis dan fotografer tidak bernyali untuk ikut mencicipi, setelah kunjungan di dapur, sudah kehilangan semua selera makan, maka cepat-cepat meninggalkan mereka dengan alasan tidak enak badan.
Menurut beberapa sumber, janin yang dikonsumsi semua adalah janin bayi perempuan. Apakah ini merupakan akibat kebijaksanaan pemerintah China untuk mewajibkan satu anak dalam satu keluarga yg berlaku sampai sekarang, atau hanya karena kegemaran orang akan makanan sehat sudah mencapai kondisi yang sangat terkutuk.

Harap teruskan cerita ini kepada setiap orang demi menghindari penyebarluasan kebiasaan yang tak berperikemanusiaan tersebut.

Sebagai manusia beragama dan berpikiran sehat, kita untuk apapun. Bangsa manusia adalah bangsa yang derajatnya paling tinggi dari mahluk di bumi ini, dan tindakan tersebut adalah tindakan yang sesungguhnya bukan berasal dari pemikiran manusia waras.